kadang, setelah lama waktu berjalan, kita baru menyadari satu per satu hal yang sebelumnya kita anggap sepele, kita lewatkan begitu saja, dan tidak kita hiraukan. tapi, saat kita menyadari sedikit kenyataan yang tidak kita inginkan, hey, sepertinya itu tidak enak. sangat tidak enak.
sepertiku saat ini. setelah lama melewatkan hal-hal kecil itu, aku jadi sadar. ah, tidak. bukan sadar. pada dasarnya mungkin aku cuma berlebihan sedikit. ya, sedikit. tapi sedikitpun, aku juga tidak mengharapkan hadirnya perasaan seperti itu. hey, aku tidak mengharapkannya. kamu tau tidak?
aku lebih suka, kalau aku tidak pernah tau. rasanya hatiku tidak akan seperti ini. seperti yang sudah ku katakan barusan. tau sedikit, tapi hal yang aku tau itu, hal yang tidak aku inginkan. sama sekali. mungkin lebih baik aku kembali ke masa, di mana aku tidak pernah tau hal itu. jadi, bagaimanapun keadaannya, lebih baik aku menutup mata, hati, telinga dari apa yang seharusnya aku tau. dan aku ingin sekali menjadi tidak peduli. ya, tidak peduli. bagus, kan? kamu. emosimu tak perlu terpancing. marahmu tak perlu ku jadikan beban. jadikan saja itu tawa. toh, aku lebih baik tidak tau. karena, inilah aku. aku yang mengetahui segalanya malah menjadi seperti ini. berlebihan. paranoid. ah, tidak enak menjadi aku.
boleh kan, aku menjadi seperti apa yang aku inginkan, tanpa peduli orang-orang disekitarku? aku ingin sekali menjadi seperti aku. aku yang seperti ini. aku yang selalu ingin tau saat aku ingin menjaga apa yang aku punya. seperti apa yang telah dikatakan olehnya, "sebelum hal yang kamu takutkan semakin jauh, lakukanlah hal yang sekiranya bisa melunturkan rasa takutmu" yah, dia yang menyampaikan itu padaku, apa yang dia bilang itu benar. tapi apa yang bisa aku lakukan? berkutik sedikit, lantas aku sudah melakukan kesalahan besar.
seperti barusan saja, aku mengetahui satu hal lagi yang sedikit demi sedikit menguatkan alibiku. alibi negatifku tentangnya. oh, sudah cukup. aku malas sekali tau apapun tentangnya lagi. toh sepertinya dia tidak suka dengan apa yang aku tau ini. sudahlah, untuk apa aku menjadi orang yang sangat peduli di atas ketidakinginannya atas apa yang aku tau. dia memang ingin menyembunyikan segalanya dariku, kan? lantas untuk apa aku tau? toh, dia tidak menginginkannya. ya, dia memang tidak menginginkannya.
bukankah sebenarnya kalau aku tau tentangnya, itu hal baik? artinya, aku masih peduli kan dengannya? ah, tapi dia memang tidak ingin aku pedulikan. lantas, untuk apa? untuk menyayat hati sendiri saja aku mudah sekali melakukannya. aku sudah muak dengan semua ini. muak dengan sikapku yang seperti ini. bagaimana kalau aku diam saja meskipun aku tau sesuatu? lalu aku mati perlahan dan menanyakan padanya hanya dalam mimpi? hey, kasihan dia. lebih baik ditanyakan langsung saja. dari pada dia ketakukan saat ku datanginya dalam mimpi. toh aku juga tidak akan mendapatkan apa yang aku cari.
tapi aku sangat ingin tau. bagaimana caranya aku bertanya dengannya tanpa membuatnya marah? tanpa membuatnya tersinggung. tanpa memantik emosinya. tanpa membuat masalah dalam setiap pertanyaanku. kenapa tidak ada lagi masa yang dulu? masa di mana kami selalu berdiskusi tentang apa yang kita inginkan. tentang apa yang kita berdua ingin perbaiki. kenapa? kenapa? kenapa?
ya. sekarang aku hidup dalam sebuah tanda tanya besar. SANGAT BESAR. hingga aku bisa duduk di dalam lengkungannya itu. bertopang dagu, manahan tangis. menahan air mata atas apa yang tidak aku tau. aku ingin sekali berteriak di depan wajahnya bahwa ini semua bisa kita bicarakan baik-baik. tapi dia sudah memasang api di wajahnya. aku sebagai agar-agar, hanya lembek dan lama kelamaan mencair. sial, lalu kapan suara dalam kepalaku ini bisa ku keluarkan? kapan? kapan? kapan?
aku benci diriku sendiri.
No comments:
Post a Comment